Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Tuesday, Jun 19th

Last update:12:28:51 AM GMT

You are here: Tokoh - tokoh Penulis Kitab Hadits Imam Malik bin Anas

Imam Malik bin Anas

Nama adalah Abu ‘Abdullah Malik bin Anas bin Abu Amir bin bin Al Haruts (93 - 179 H = 712 - 798 M). Imam Malik bin Anas dilahirkan pada tahun 93 Hijriyah di Madinah dan meninggal dunia pada Ahad, 14 Rabiul Awwal tahun 169 Hijriyah (sebagian menyatakan 179 H) di Madinah, dengan meninggalkan tiga orang anak; Yahya, Muhammad, dan Hammad.

Beliau berada dalam kandungan ibunya selama tiga tahun dan silsilahnya merujuk kepada Ya’rub bin Al Qaththan Al Asbahi. Nenek moyangnya adalah Abu ‘Umar, seorang sahabat yang selalu mengikuti seluruh peperangan yang terjadi pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali perang Badar. Adapun kakeknya, Malik bin Anas, adalah seorang tabi'in besar dan ahli fikih kenamaan, dan salah seorang dari empat orang tabi'in yang jenazahnya diusung sendiri oleh Khalifah Usman bin Affan ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Beliau belajar hadits secara qira'ah kepada
1. Nafi' bin Abu Nua'im
2. Az Zuhri,
3. Nafi' (pelayan Abdullah bin 'Umar), dan lainnya.
Adapun ulama   ulama ternama yang pernah belajar kepada dia. di antaranya adalah
1. Al Auza'i,
2. Sufyan Ats Tsauri,
3. Sufyan bin 'Uyainah,
4. Ibnu Al Mubarak,
5. Imam Syafi’i dan lainnya.

Malik bin Anas adalah seorang  ahli fikih dan ahli hadits yang selalu menjunjung tinggi dan menghormati hadits hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam. Para ulama juga mengakui beliau sebagai ahli hadits yang sangat tangguh. Jika beliau memberikan hadits kepada siapa pun, beliau terlebih dulu berwudhu kemudian duduk di atas tikar untuk shalatnya dengan tenang dan tawadhu'. Beliau sangat tidak suka memberikan hadits sambil berdiri, di tengah jalan, atau, dengan cara tergesa gesa. Beliau juga tidak pernah melalaikan shalat berjamaah, selalu aktif membesuk sahabat sahabatnya yang sedang sakit, dan tidak lupa menunaikan kewajiban - kewajiban lainnya.

Beberapa perkataan ulama tentang Imam Malik bin Anas :
1. Imam Asy Syafi’i : " Jika dibicarakan tentang hadits, maka Imam Malik adalah bintangnya, dan jika dibicarakan soal keulamaan, maka Imam Malik jugalah yang menjadi bintangnya. Tidak ada seorang pun yang terpercaya dalam bidang ilmu Allah dibandingkan Imam Malik. Imam Malik dan Ibnu 'Uyainah adalah dua orang sahabat yang mumpuni di bidang ilmu ilmu Allah. Seandainya mereka berdua tidak ada, niscaya hilang juga ilmu orang¬ - orang Hijaz."
2. Imam Yahya bin Sa'id Al Qaththan dan Imam Yahya bin Ma’in memberikan gelar kepada beliau sebagai Amirul Mu'minin fi Al Hadits.
3. Al Bukhari menyatakan bahwa sanad yang dikatakan ashahhul asanid adalah apabila sanad itu terdiri dari Imam Malik, Nafi’, dan 'Abdullah bin 'Umar Radhiyallahli 'anhuma.
4. Masyarakat Hijaz memberikan gelar kehormatan kepada beliau dengan julukan 'Sayyid Fuqaha 'il Hijaz.'
Beliau juga dikenal sebagai ulama yang sangat keras dalam mempertahankan pendapatnya yang diyakini benar. Beliau pernah diadukan kepada Khalifah Ja’far bin Sulaiman oleh paman Khalifah sendiri. Beliau dituduh tidak menyetujui pembaiatan pada Khalifah. Menurut Ibnu Al jauzi, beliau disiksa dengan hukuman cambuk sebanyak tujuh puluh kali sampai ruas lengannya sebelah atas bergeser dari persendian pundaknya. Siksaan ini dilakukan karena fatwa beliau tidak sesuai dengan kehendak dan kemauan Khalifah. Penyiksaan yang dilakukan Khalifah itu bukan menurunkan popularitasnya di mata masyarakat luas, bahkan namanya menjadi harum dan berkibar serta kedudukannya menjadi lebih terhormat di kalangan para ahli ilmu.

Karyanya yang sangat gemilang dan dinilai monumental di bidang ilmu hadits adalah kitab Al Muwaththa'.  Kitab ini ditulis pada tahun 144 Hijriyah atas anjuran Khalifah Ja’far Al Manshur ketika mereka bertemu pada pelaksanaan ibadah haji. Menurut penelitian yang dilakukan Abu Bakar Al Abhari, jumlah atsar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sahabat, dan tabi'in yang tercantum dalam kitab, Al Muwaththa' sebanyak 1720 buah, dengan perincian sebagai berikut: yang musnad sebanyak 600 buah, yang mursal sebanyak 222 buah, yang mauquf sebanyak 613, dan yang maqthu’ sebanyak 285 buah.