Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Wednesday, Oct 01st

Last update:12:28:51 AM GMT

You are here: Tafsir Depag RI QS 004 : An Nisaa' Tafsir Depag RI : QS 004 - An Nisaa 142

Tafsir Depag RI : QS 004 - An Nisaa 142

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلً

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk bershalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.(QS. 4:142)

Kemudian Allah SWT menjelaskan sikap orang-orang munafik yang selalu membantu tipu daya untuk menghalang-halangi berkembangnya agama Islam. Dan bahwa mereka menipu Rasul saw dengan jalan menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran.

Di dalam ayat ini diungkapkan bahwa mereka telah menipu Allah dengan menipu Rasul-Nya, karena menipu Rasul itu disamakan dengan menipu Allah. Perbuatan mereka menipu Allah dan Rasul Nya itu adalah perbuatan sesat Allah SWT Maha Mengetahui apa yang terkandung dalam hati mereka.

Oleh sebab itulah Allah membalas tipuan mereka seperti yang diterangkan dalam firman Nya:

 

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Artinya:

"Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya" (Q.S. Ali Imran: 54)

Dan firman Allah:

 

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ

Artinya:

"Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyimpan) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat" (Q.S. Al-Baqarah: 17)

Demikianlah Allah menggambarkan bahwa tipu daya mereka tidak akan berhasil dan mereka tidak akan mendapat manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dan Allah karena sifat-sifat kemunafikannya yang bersemi di dalam dada mereka.

Dan apabila mereka mendirikan salat merekapun bermalas-malas karena tidak mempunyai keinginan untuk melakukannya, mereka tidak meyakini adanya pahala di akhirat dan tidak merasa takut akan ancaman Allah di hari kemudian. Hal ini disebabkan karena hatinya kosong dari iman yang benar. Mereka ikut melakukan salat hanyalah supaya dikatakan orang-orang muslim, sedangkan apabila mereka tidak lagi berada di lingkungan kaum Muslimin, mereka tidak lagi melakukannya.

Pantaslah apabila mereka berlaku demikian karena mereka sebenarnya adalah bersifat ria, ingin agar mereka dianggap mukmin. Dan mereka tidak melakukan salat terkecuali dalam waktu-waktu tertentu saja yaitu pada saat-saat mereka berada di hadapan orang-orang Islam.