Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Wednesday, Oct 18th

Last update:12:28:51 AM GMT

You are here: Ensiklopedia M Mushibah

Mushibah

MUSHÎBAH (Musibah)


Menurut ar-Ragib al-Asfahani, asal makna kata mushîbah (مُصِيْبَةٌ) adalah lemparan (ar-ramyah), kemudian digunakan untuk pengertian bahaya, celaka, atau bencana dan bala. Al-Qurthubi mengatakan, mushibah ialah apa saja yang menyakiti dan menimpa diri orang mukmin, atau sesuatu yang berbahaya dan menyusahkan manusia meskipun kecil. Untuk menguatkan pengertian tersebut, al-Qurthubi mengemukakan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ikrimah bahwa lampu Nabi Saw. pernah mati pada suatu malam. Lalu, beliau membaca: innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn (إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُوْنَ = Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali). Para sahabat bertanya: “Apakah ini termasuk musibah hai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Ya, apa saja yang menyakiti orang mukmin disebut musibah.”
 
Kata mushîbah (مُصِيْبَةٌ) di dalam al-Quran disebut 10 kali, yaitu di dalam
  • QS. Al-Baqarah [2]: 156, 
  • QS. آli ‘Imrân [3]: 165, 
  • QS. An-Nisâ’ [4]: 62, 72, 
  • QS. Al-Mâ’idah [5]: 106, 
  • QS. At-Taubah [9]: 50, 
  • QS. Al-Qashash [28]: 47, 
  • QS. Asy-Syûrâ [42]: 30, 
  • QS. Al-Hadîd [57]: 22, dan 
  • QS. At-Tagâbun [64]: 11.
 
Kata mushîbah (مُصِيْبَةٌ) dalam QS. Al-Baqarah [2]: 156 disebut oleh Allah sesudah menyebutkan bermacam-macam cobaan yang diberikan-Nya kepada umat manusia berupa ketakutan, kela paran, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
 
Adapun kata mushîbah (مُصِيْبَةٌ) dalam QS. آli ‘Imrân [3]: 165 berhubungan dengan mushibah (kekalahan) yang dialami oleh orang-orang mukmin pada peperangan Uhud. Pada firman Allah dalamQ S. An-Nisa’ (4): 62, berhubungan dengan musibah yang menimpa orang-orang munafik akibat perbuatan mereka sendiri. Kata mushîbah (مُصِيْبَةٌ) pada Ayat 72 dalam surah yang sama berkaitan dengan sikap sebagian orang Islam yang enggan pergi ke medan pertempuran. Bila ternyata pasukan kaum muslimin mengalami kekalahan, mereka berkata, “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersa ma-sama mereka.”
 
Firman Allah dalam S. Al-Mâ’idah [5]: 106 berhubungan dengan musibah kematian yang menimpa seseorang di dalam perjalanan. Mushîbah (مُصِيْبَةٌ) dalam S. Al-Qashash [28]: 47 berhubungan dengan musibah (azab) yang menimpa orang-orang kafir akibat perbuatan mereka sendiri. Jadi, kata mushîbah (مُصِيْبَةٌ) di sini lebih tepat diartikan dengan azab. Kata mushîbah (مُصِيْبَةٌ) dalam S. Asy-Syûrâ [42]: 30 berkaitan dengan musibah yang menimpa diri seseorang akibat perbuatan mereka sendiri. Namun, ditekankan pada akhir ayat itu bahwa Allah memaaf kan sebagian besar kesalahan mereka, sementara dalam S. Al-Hadîd [57]: 22 Tuhan menjelaskan bahwa musibah (bencana) yang terjadi di bumi atau menimpa diri seseorang telah dicatat Allah di dalam kitab (lauh mahfuzh = لَوْحٌ مَحْفُوْظٌ) sebelum musibah itu terjadi. Jadi, sudah lebih dahulu diketahui Allah. Adapun dalam S. At-Tagâbun [64]: 11 Allah menjelaskan bahwa suatu musibah tidak akan terjadi kecuali dengan izin Allah. (Hasan Zaini)
 
Ref : psq.or.id