Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Tuesday, Dec 12th

Last update:12:28:51 AM GMT

You are here: Ensiklopedia M Muddatsir

Muddatsir

MUDDATSTSIR (Yang berselimut)


Kata muddatstsir adalah nama salah satu surah di dalam Alquran, yang menempati urutan ke-74 di dalam mushaf. Surah Al-Muddatstsir terdiri dari 56 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyyah. Nama Al-Muddatstsir diambil dari kata al-muddatstsir yang terdapat pada ayat pertama surah itu.
 
Ada beberapa riwayat mengenai sejarah turunnya surah ini. Riwayat itu antara lain disebutkan di dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang berasal dari Jabir Ra. yang menyampaikan apa yang disampaikan oleh Rasul, yaitu, “Ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari atas, maka aku arahkan pandanganku ke langit. Tiba-tiba malaikat yang datang kepadaku di Gua Hira (kulihat) duduk di atas sebuah kursi di antara langit dan bumi. Maka, aku bertekuk lutut dan terjatuh ke tanah. Aku segera kembali kepada keluargaku (Khadijah) dan berkata, “Zammilûnî zammilûnî;” maka, turunlah ayat-ayat, “Yâ ayyuhal muddatstsir (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ = Hai orang yang berselimut) sampai dengan wa ar-rujza fahjur (وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ = Dan perbuatan dosa [menyembah berhala] tinggalkanlah) (S. Al-Muddatstsir [74]: 1–5).
 
Muddatstsir adalah ism fâ‘il (إِسْمُ فَاعِلٍ = kata benda yang menunjukkan pelaku) dari iddatsara (اِدَّثَرَ). Menurut Ar-RagHib Al-Asfahani, muddatstsir berasal dari kata mutadatstsir (مُتَدَثِّرٌ). Di situ ta di-idgam-kan (إِدْغَامٌ = memasukkan satu huruf ke huruf lain) jadi dâl. Tadatstsara (تَدَثَّرَ) menurut pengarang kitab Al-Mu’jam Al-Wasîth berarti seseorang yang memakai ditsâr (دِثَارٌ) dan menutupi diri dengan itu (labisad ditsâra wa tagaththâ bihi = لَبِسَ الدِّثَارَ وتَغَطَّى بِهِ). Adapun ditsâr adalah sejenis kain yang diletakkan di atas baju yang dipakai untuk menghangatkan dan/atau dipakai sewaktu orang berbaring/tidur. Dengan kata lain, kata itu dapat diterjemahkan ‘selimut’. Kata muddatstsir berarti “orang yang berselimut”.
 
Bila kata “orang yang berselimut” dikaitkan lebih jauh dengan sebab turunnya ayat, arti yang ditunjuk oleh peristiwa tersebut adalah “orang yang diselimuti”. Pengertian ini didukung oleh suatu qiraat yang dinisbahkan kepada Ikrimah, yaitu al-mudtsar (Yâ ayyuhal mudtsar = يَا أَيُّهَا الْمُدْثَرُ), yang menyelimuti beliau adalah istrinya, Khadijah.
 
Muhammad Husain At-Thabathaba’i menafsirkan ayat ini dengan, “Wahai orang yang berselimut dengan kain untuk tidur”. Di dalam hal ini, Allah menghadapkan pembicaraan kepada Nabi Muhammad Saw. sesuai dengan keadaannya waktu itu, untuk menghibur dan melambangkan rasa kasih sayang (ta’nîsan wa mulathafan =تَأْنِيْسًا وَمُلْطَفًى). At-Thabathaba’i juga berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tadatstsur (berselimut) di dalam ayat ini adalah pakaian kenabian (an-nubuwwah) yang disamakan dengan pakaian dan perhiasan yang dipakai. Menurut pakar yang lain, maksudnya ialah saat-saat Nabi bersemedi di Gua Hira’ yang jauh dari penglihatan manusia. Maka, ayat ini seakan-akan berbicara dengan beliau sesuai dengan situasi waktu itu. Pendapat lain lagi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “berselimut” di sini ialah beristirahat dan bersenang-senang.
 
Ikrimah, sebagaimana yang dikutip Al-Qurthubi, berpendapat bahwa maksud al- muddatstsir ialah kenabian (nubuwwah = نُبُوَّة) dan beban kenabian. Allah memanggil kekasih-Nya sesuai dengan sifat dan keadaannya waktu itu, dan Tuhan tidak mengatakan “Yâ Muhammad” atau “Yâ Fulân.” Ini dimaksud untuk menunjukkan sikap lunak, lembut, dan kasih sayang. (Hasan Zaini)
 
Ref : psq.or.id