Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Thursday, Sep 18th

Last update:12:28:51 AM GMT

Jumlah Kain Lapisan Kafan

Fiqih Jenazah : Jumlah Kain Lapisan Kafan

 

Landasan hukum dalam hal ini adalah hadits yang menyebutkan.

 

"Bahwa Rasulullah SAW dikafani dalam tiga kain putih sulaman, tidak ada di dalamnya gamis ataupun selendang.”  Muttafaq 'Alaih - HR. Al Bukhari,  Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad, serta Abdurrazzaq .

 

Abu Daud meriwayatkan dari Laila binti Qaif Ats-Tsaqafi,

 

"Aku termasuk orang yang memandikan Ummu Kultsum RA (putri Rasulullah SAW). Yang pertama diberikan Rasulullah SAW kepadaku adalah sarung jubah, kerudung lalu kain penutup. Kemudian kututupi Ummu Kultsum di atas pakaian lain" Laila berkata, "Rasulullah SAW duduk di dekat beliau membawa kafan Ummu Kultsum dan mengenakannya kain satu demi satu." Dha'if - HR. Abu Daud, Ahmad, Ath-Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir, Al Baihaqi, dinyatakan oleh Al Albani sebagai hadits dha'if dalam Dha'i f Abu Daud.

 

Diantara ulama ada yang berpedoman pada zhahir kedua atsar tersebut dan berkata,

 

  1. "Jenazah lelaki dikafani dengan tiga pakaian, dan wanita dikafani dengan lima pakaian." Pendapat serupa dikemukakan oleh Syafi'i, Ahmad dan jamaah.
  2. Abu Hanifah berpendapat, jenazah wanita minimal dikafani dengan tiga pakaian sedangkan sunahnya lima pakaian. Jenazah lelaki minimal afani dua baju, dan sunahnya tiga baju.
  3. Menurut Malik, tidak ada batasan dalam hal tersebut. Bagi jenazah lelaki maupun wanita cukup hanya dengan satu baju, namun dianjurkan diberi pakaian dengan jumlah genap.

 

Sebab perbedaan pendapat :

 

Adanya beda persepsi ulama dalam memahami kedua atsar tersebut. Bagi yang memahami kedua atsar tersebut berarti mubah, mereka tidak berpendapat adanya batasan jumlah potong pakaian. Hanya saja dianjurkan untuk dibatasi dengan jumlah ganjil, karena kedua atsar tersebut sepakat menyebut jumlah genap. Serta tidak perlu dibedakan jenazah lelaki maupun perempuan.

 

Sepertinya, ulama yang menyatakan pendapat demikian memahaminya sebagai sesuatu yang mubah kecuali dalam penentuan jumlah. Sebab, penentuan jumlah pakaian harus mengacu kepada dalil. Dan bagi ulama yang memahami bahwa jumlah bilangan adalah peraturan mubah, maka akan mengatakan adanya batasan jumlah yang dapat dilakukan berupa wajib maupun anjuran. Namun, semuanya mudah dan lapang, insya Allah, karena tidak ada batasan syari'at yang menyebutkannya. 

Ref : Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd