Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Friday, Oct 24th

Last update:12:28:51 AM GMT

الإِجماع - Ijma'

Ijma' secara bahasa adalah ( العزم والاتفاق ) Niat yang kuat dan Kesepakatan. Dan secara istilah berarti
اتفاق مجتهدي هذه الأمة بعد النبي صلّى الله عليه وسلّم على حكم شرعي
"Kesepakatan para mujtahid ummat ini setelah wafatnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap suatu hukum syar'."
Penjelasan :
  1. ( اتفاق ) "kesepakatan" yaitu  adanya khilaf walaupun dari satu orang, maka tidak bisa disimpulkan sebagai ijma'.
  2. ( مجتهدي ) "Para mujtahid" berarti orang awam dan orang yang bertaqlid, maka kesepakatan dan khilaf mereka tidak dianggap sebagai ijma'.
  3. ( هذه الأمة ) "Ummat ini" adalah  Ijma' selain mereka (ummat Islam), maka ijma' selain mereka tidak dianggap.
  4. ( بعد النبي صلّى الله عليه وسلّم ) "Setelah wafatnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah kesepakatan mereka pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka tidak dianggap sebagai ijma' dari segi keberadaannya sebagai dalil, karena dalil dihasilkan dari sunnah nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam baik dari perkataan atau perbuatan atau taqrir (persetujuan), oleh karena itu jika seorang shahabat berkata : "Dahulu kami melakukan", atau "Dahulu mereka melakukan seperti ini pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ", maka hal itu marfu' secara hukum, tidak dinukil sebagai ijma'.
  5. ( على حكم شرعي ) "terhadap hukum syar'i" yaitu kesepakatan mereka dalam hukum akal atau hukum kebiasaan, maka hal itu tidak termasuk disini, karena pembahasan dalam masalah ijma' adalah seperti dalil dari dalil-dalil syar'i.
Ijma merupakan hujjah, dengan dalil-dalil diantaranya :
1. Firman Allah :
وكَ َ ذلِك جعلْنا ُ كم أُمةً وسطاً لِت ُ كونوا شهداءَ علَى الناسِ
"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia." [QS. Al-Baqoroh : 143]
Maka firmanNya : "Saksi atas manusia", mencakup persaksian terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan hukum-hukum dari perbuatan mereka, dan seorang saksi perkataannya diterima.
 
2. Firman Allah :
فَإِنْ تنازعتم فِي شيءٍ فَ  ردوه إِلَى اللَّهِ والرسولِ
"Jika kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya." [QS. An-Nisa' : 59]
Menunjukkan atas bahwasanya apa-apa yang telah mereka sepakati adalah benar.
 
3. Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
لاَ تجتمِع أُمتِي علَى ضلاَلَةٍ
"Umatku tidak akan bersepakat diatas kesesatan"
4. Kami mengatakan : Ijma' umat atas sesuatu bisa jadi benar dan bisa jadi salah, jika benar maka ia adalah hujjah, dan jika salah maka bagaimana mungkin umat yang merupakan umat yang paling mulia disisi Allah sejak zaman Nabinya sampai hari kiamat bersepakat terhadap suatu perkara yang batil yang tidak diridhoi oleh Allah? Ini merupakan suatu kemustahilan yang paling besar.
 
Ref : Prinsip Ilmu Ushul Fiqih, Asy-Syaikh al-'Allamah Muhammad bin Sholeh al-'Utsaimin, tholib.wordpress.com