Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Saturday, Oct 25th

Last update:12:28:51 AM GMT

Syarat Terjadinya Khulu

Indeks Artikel
Syarat Terjadinya Khulu
Ukuran yang dibolehkan dalam khulu'
Sifat sesuatu yang dijadikan sebagai pengganti
Keadaan yang dibolehkan untuk melakukan Khulu
Sifat wanita yang dibolehkan untuk meminta khulu'
Semua Halaman

Syarat-syarat terjadinya

Adapun syarat-syarat dibolehkannya yaitu : 

 

  1. Syarat yang berhubungan dengan ukuran yang dibolehkan dalam khulu'.
  2. Syarat yang berhubungan dengan sifat sesuatu yang dengannya khulu' dibolehkan .
  3. Syarat yang berhubungan dengan keadaan dibolehkan nya khulu'.
  4. Syarat yang berhubungan dengan sifat yang dibolehkan bagi wanita untuk melakukannya atau para wali mereka yang tidak memiliki kekuasaan.

 

 


 

Ukuran yang dibolehkan seorang wanita melakukan khulu'

 

  1. Malik, Syafi'i dan sekelompok ulama mengatakan bahwa seorang wanita dibolehkan melakukan khulu' dengan harta yang lebih banyak dari mahar yang diberikan oleh suami, jika pembangkangan datang dari dirinya, dan bisa juga dengan ukuran yang sama atau dengan ukuran yang lebih sedikit.
  2. Pendapat lain menyatakan bahwa suami tidak boleh mengambil lebih banyak dari yang telah dia berikan kepada istrinya. berdasarkan zhahir hadits Tsabit.

 

Ulama yang menyamakannya dengan semua pegganti di dalam urusan muamalah, berpendapat bahwa ukuran tersebut kembali kepada keridhaan. Ulama yang mengambil zhahir hadits Tsabit tidak membolehkan lebih dari hal itu dan sepertinya mereka melihat hal itu termasuk mengambil harta tanpa hak.


Sifat sesuatu yang dijadikan sebagai pengganti

 

  1. Syafi'i dan Abu Hanifah dalam hal ini mensyaratkan agar sifatnya bisa diketahui dan wujudnya juga bisa diketahui.
  2. Sedangkan Malik dalam hal ini membolehkan sesuatu yang tidak diketahui wujud dan ukurannya serta sesuatu yang tidak ada, seperti sesuatu yang lepas dan lari, buah-buahan yang belum masak dan budak yang tidak bisa disifati.
  3. Diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa dia membolehkan sesuatu yang bersifat penipuan dan melarang sesuatu yang tidak ada.

 

Sebab perbedaan pendapat : Kurangjelasnya definisi pengganti dalam hal ini antara pengganti dalam jual beli atau sesuatu yang dihibahkan serta diwasiatkan. Ulama yang menyamakannya dengan jual beli dalam hal ini mensyaratkan sesuatu yang disyaratkan dalam jual beli dan yang disyaratkan dalam pengganti jual beli. Dan ulama yang menyamakannya dengan pemberian tidak mensyaratkan hal itu.

Mereka berbeda pendapat jika terjadi khulu' dengan sesuatu yang tidak halal seperti khamer dan babi, apakah wajib untuk diganti atau tidak, setelah mereka sepakat bahwa perceraian terjadi : 

 

  1. Malik berpendapat tidak harus ada pengganti, pendapat ini juga dikemukakan oleh Abu Hanifah.
  2. Syafi'i berpendapat wajib untuk memberikan mahar mitsl.

 

 


Keadaan yang dibolehkan untuk melakukan Khulu

Adapun sesuatu yang berhubungan dengan keadaan yang dibolehkan untuk melakukan khulu' dari yang tidak dibolehkan : 

 

  1. Jumhur berpendapat bahwa khulu' diperbolekan dengan adanya saling ridha, jika sebab keridhaan istri dengan sesuatu yang dia berikan tidak membahayakan dirinya. Dasar dalam hal ini ialah firman Allah Ta 'ala, "Dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata." (Qs. An-Nisaa' [4] : 19). Dan firman Allah Ta 'ala, "Jika kamu khawatir bahwa jika keduanya (suami istri) tidak menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya berkenaan dengan bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya." (Qs. Al Baqarah [2] : 229).
  2. Abu Qilabah dan Al Hasan Al Bashri berpendapat dengan pendapat yang ganjil, keduanya mengatakan bahwa seorang suami tidak boleh melakukan khulu' terhadap istrinya, hingga dia mendapatkan istrinya sedang berzina. Mereka mengartikan perbuatan keji dengan arti berzina.
  3. Daud berpendapat tidak dibolehkan kecuali dengan syarat khawatir jika keduanya tidak bisa menegakkan hukum-hukum Allah berdasarkan zhahir ayat tersebut di atas.
  4. An-Nu'man berpendapat dengan pendapat yang ganjil, dibolehkan khulu' meskipun membahayakan istri.

 

Berdasarkan pemahaman yang benar bahwa tebusan hanya kepada istri untuk membayar sesuatu yang berada di tangan suami karena thalak, dimana hak thalak tidak berada di tangan suami jika membenci istri, adapun khulu' berada di tangan istri jika dia membenci suami.

Di dalam khulu' terdapat lima pendapat : 

 

  1. Bahwa khulu' tidak dibolehkan sama sekali.
  2. Bahwa khulu' dibolehkan kapan saja (maksudnya, meskipun membahayakan).
  3. Bahwa khulu' tidak dibolehkan kecuali jika suami menyaksikan istrinya berzina. 
  4. Bahwa khulu' dibolehkan dengan adanya kehawatiran jika tidak bisa menegakkan hukum-hukum Allah.
  5. Bahwa khulu' dibolehkan kapan saja kecuali jika membahayakan. Ini adalah pendapat yang masyhur.

 


Sifat wanita yang dibolehkan untuk meminta khulu'

Adapun masalah siapakah yang dibolehkan meminta khulu' maka tidak ada perbedaan pendapat menurut jumhur bahwa wanita bangsawan dibolehkan meminta khulu' untuk dirinya, sedangkan budak wanita tidak boleh meminta khulu' untuk dirinya, kecuali dengan keridhaan tuannya Begitujuga wanita yang bodoh harus dengan walinya menurut pendapat ulama yang menyatakan adanya perwalian.

Sedangkan Malik mengatakan, seorang bapak boleh memintakan khulu' untuk anak gadisnya yang masih kecil sebagaimana dia menikahkannya, begitu juga bagi anak laki-lakinya yang masih kecil karena menurut Malik dia boleh menceraikan untuk anaknya. Sementara mengenai anak kecil laki-laki para ulama berbeda pendapat; Syafi'i dan Abu Hanifah berpendapat tidak dibolehkan karena menurut mereka dia tidak bisa menceraikan untuk anaknya. Wallahu a'lam.

Khulu' yang dilakukan oleh wanita yang sedang sakit : 

 

  1. Dibolehkan menurut Malik, jika khulu' tersebut sebesar warisan suami yang diterima darinya, Ibnu Nafi' meriwayatkan dari Malik bahwa dia membolehkan wanita yang sakit melakukan khulu' dengan sepertiga seluruh hartanya.
  2. Syafi'i mengatakan jika wanita yang sakit tersebut melakukan khulu' dengan harta sebesar mahar mitsl, maka dibolehkan dan harta tersebut dari harta pokok, jika lebih dari itu, maka tambahan tersebut dari sepertiga.

 

Adapun wanita yang dibiarkan yaitu wanita yang tidak memiliki orang yang diwasiatkan untuk mengurusinya serta tidak memiliki bapak : 

 

  1. lbnu Al Qasim mengatakan khulu'nya dibolehkan jika melakukan khulu' sebesar mahar mitslnya.
  2. Jumhur berpendapat bahwa seorang wanita yang menguasai dirinya dibolehkan melakukan khulu' untuk dirinya.
  3. Al Hasan dan Ibnu Sirin berpendapat dengan pendapat yang ganjil, keduanya mengatakan dia tidak dibolehkan melakukan khulu' kecuali dengan izin penguasa.

 

 
Ref : Bidayatul Mujtahid, Ibnu rusyd