Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Sunday, Nov 23rd

Last update:12:28:51 AM GMT

You are here: Adab, Syariah (dan Fiqih) Adab Adab Bermasyarakat Adab Mempekerjakan dan Bekerja

Adab Mempekerjakan dan Bekerja

ADAB MEMPEKERJAKAN ( AL IJAARAH ) DAN BEKERJA 

Saat seseorag menggunakan tenaga orang lain mempekerjakannya untuk suatu pekerjaan tertentu, baik karena ia membutuhkannya maupun karena ia tidak mampu melakukan pekerjaan itu seorang diri. Maka ketika itu, ia harus mengetahui adab – adab Islami dan bimbingan yang berkaitan dengan ijaarah (mempekerjakan orang). Kami akan menyebutkan sebagiannya termasuk adab bagi pekerja yang dipekerjakan tersebut menurut apa yang Kami ketahui dengan pertolongan Allah Ta'ala, di antaranya adalah :

1. Hendaknya Mempekerjakan Seorang Muslim, bukan nonMuslim
Wajib bagi kaum Muslimin untuk tidak mempekerjakan seseorang kecuali Muslim. Tidak boleh ia mempekerjakan orang musyrik. Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda:
 
"... Aku tidak akan meminta bantuan kepada oring musyrik."
'Umar ibnul Khaththab ra  sangat marah ketika Abu Musa a –Asy’ari ra menyewa seorang juru tulis Nasrani pada masa kepemimpinannya di Kufah. Terkecuali jika memang ia tidak menemukan. seorang Muslim ia terpaksa mengupah orang musyrik, dengan syarat tidak  memberikan kekuasaan kepada orang tersebut atas aset aset kaum Muslimin.
Allah Ta'ala berfirman :
 
"... Dan Allah sekali kall tidak akan memberi jalan kepada orang - orang kafir untuk memusnahkan orang - orang yang beriman." (QS. An Nisaa' : 141)

2. Hendaknya Mempekerjakan Seorang yang Kuat lagi Terpercaya
Hendaknya seorang Muslim mempekerjakan untuk seorang yang amanah, bagus agamanya, kuat, dan layak. Hal itu berdasarkan firman Allah Ta'ala :
 
“... Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (QS. Al Qashash : 26)

Sebab, orang yang memiliki sifat sifat seperti ini akan mampu melaksanakan tugas dan lebih bertakwa kepada Allah dalam tugasnya. Adapun orang yang hanya memiliki sebagian sifat di atas dan tidak memiliki sebagian yang lain akan menyebabkan kekacauan sehingga pekerjaan tersebut tidak akan sempurna hasilnya sebagaimana yang diharapkan. Disebutkan dalam satu riwayat bahwa 'Umar Ibnul Khaththab ra berkata: "Ya, Allah, aku mengadukan kepada-Mu kelemahan orang yang amanah dan pengkhianatan orang yang kuat."

3. Kemudahan dalam Muamalah
Yang dimaksud adalah muamalah antara majikan dan pekerja yang diwarnai dengan kemudahan, kelembutan dan penuh kerelaan hati. Sesungguhnya Islam sangat menganjurkan kemudahan dalam semua bentuk muamalah.
Rasulullah saw , bersabda :
 
"Allah merahmati orang yang mudah jika menjual, membeli dan menagih” .

4. Kesepakatan
Maksudnya adalah kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya, yakni tentang pekerjaan yang diminta, penjelasan karakter dan perinciannya, serta upah yang pantas sehingga tidak merugikan salah satu pihak. Kesepakatan ini  akan memutuskan sebab sebab perselisihan, menutup, pintu masuk syaitan, serta mencegah kecurangan dan penipuan. Sebagaimana pula majikan tidak boleh memanfaatkan kefakiran pekerja atau memaksanya mengerjakan sesuatu hingga merugikan haknya, atau memberinya upah yang tidak pantas dan tidak sesuai dengan pekerjaan.
Dalil disyari'atkannya kesepakatan dan penetapan upah adalah sabda Rasulullah saw ketika ditanya tentang pekerjaan beliau menggembala kambing. Beliau saw bersabda :
 
"Aku memggembala kambing untuk penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath."
Yang dimaksud dengan qirath adalah bagian dari dinar atau dirham. Satu qirath (4/6 dinar) sama dengan setengah daniq (1/4 dirham) dan satu dirham sama dengan enam daniq. Sebagian perawi hadits berpegang dengan tafsir ini, sebagaimana yang dipilih oleh Ibnu Hajar.

5. Tidak Boleh Mempekerjakan Seseorang untuk Perkara yang Haram
Seorang pekerja tidak boleh menerima. pekerjaan yang di dalamnya terkandung kemarahan Allah swt. Misalnya, menjaga toko yang menjual barang barang haram, seperti rokok, minuman keras, majalah dan CD CD pomo dan lain sebagainya. Janganlah ia menerima kecuali pekerjaan yang hingga upah yang ia terima itu halal dan baik.
Demikian juga bagi majikan, janganlah ia mempekerjakan seseorang untuk membantunya melakukan pekerjaan yang haram. Hal demikian akan menambah dosa pada dosanya yang pertama, yaitu melakukan perbuatan haram dengan dosa yang baru yaitu mengikutsertakan orang lain dalam perkara haram tersebut. Pada asalnya, ia juga tidak boleh melakukan hal itu. Mempekerjakan seseorang untuk perkara haram adalah suatu yang bathil dan tidak dibenarkan. Sebagaimana tidak boleh seorang majikan memaksa buruh mengerjakan sesuatu yang mendatangkan kemurkaan Allah Ta'ala.

6. Amanah dalam Melaksanakan Tugas dan Pekerjaan
Sudah selayaknya seorang pekerja melaksanakan tugasnya dengan penuh amannah dan tidak berkhianat. Hendaknya ia bertakwa kepada Allah Ta'ala, bahkan ketika majikan tidak ada ia harus tetap muraqabab (merasa dalam pengawasan) dengan Rabbnya swt dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Sesungguhnya ini merupakan sifat amanah
 Allah swt berfirman :
 
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menenmanya... " (QS. An Nisaa' : 58)

7. Menyerahkan Hasil Keuntungan kepada Majikan
Seorang pekerja hendaknya menyerahkan keuntungan kepada majikannya karena hal itu merupakan bentuk penunaian amanah.
Rasulullah saw bersabda :
 
"Seorang bendahara yang amanah, yang menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya dengan senang hati, termasuk orang yang bershadaqah”
Tidak boleh ia mengambil sesuatu pun untuk dirinya karena itu merupakan pengkhianatan. Sebagaimana ia juga tidak boleh menyerahkan keuntungan kepada selain majikannya. Sesungguhnya itu adalah kezhaliman. Demikian juga hendaknya ia bersikap wara’ (berhati hati) dalam menerima hadiah yang diserahkan kepadanya disebabkan posisinya pada jabatan itu.

8. Berbelas Kasih kepada Pegawai
Hendaknya seorang majikan tidak membebani pegawai dengan pekerjaan di luar kemampuan atau memikulkan kepadanya pekerjaan yang tidak sanggup ia kerjakan. Terkecuali jika majikan turut membantunya mengerjakan tugas yang berat itu.
Rasulullah saw bersabda:
 
"Janganlah kalian membebani mereka dengan sesuatu yang mereka tidak mampu. Jika kalian membebankan sesuatu kepada mereka, maka bantulah."

9. Menunaikan Hak Pekerja
Hendaknya seorang majikan menunaikan hak hak pekerja yang telah disepakati sebelumnya, segera setelah ia menyelesaikan tugasnya, berdasarkan sabda Rasulullah saw :
 
“Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya."
Janganlah ia berusaha untuk menunda nunda penyerahannya, atau merugikan sedikit pun darinya. Yakni, dengan menahan upah tanpa alasan dan yang semisalnya. Sebab, perbuatan itu termasuk kategori memakan harta orang secara bathil. Maka selayaknya setiap majikan menyadari bahwasanya memakan hak pekerja merupakan dosa yang sangat besar.
Rasulullah saw bersabda :
 
"Allah Ta'ala berfirman : “Ada tiga macam orang yang langsung Aku tuntut pada hari Kiamat: orang yang membuat perjanjian atas nama Ku Ialu ia langgar; orang yang menjual orang merdeka lalu memakan hasil penjualannya; dan orang yang mempekerjakan orang lain, yang orang itu telah menyempurnakan pekerjaannya, tetapi ia tidak memberikan gaiinya (upahnya).”

10. 10. Menjaga Hak Hak Pekerja yang Pergi (Tidak Hadir)
 Hendaknya seorang majikan tetap menjaga hak hak pekerja jika pekerja itu pergi sebelum ditunaikan haknya, baik karena sakit, pergi tiba tiba atau sebab lainnya. Seandainya upah pekerja itu bergabung dengan harta dan terus bertambah keuntungannya ketika si pekerj a pergi, hendaknya menyerahkan upah itu berikut keuntungannya.Ini merupakan amal shalih dan bentuk penunaian amanah. Rasulullah saw bersabda, mengisahkan tentang orang yang terperangkap di dalam gua :

  
 "Orang yang ketiga berkata: 'Ya, Allah, aku pernah mempekerjakan beberapa orang pekerja. Aku pun menyerahkan upah mereka masing - masing, kecuali upah satu orang yang ia pergi sebelum aku menyerahkan upahnya. Kemudian, aku mengusahakan upah itu hingga berkembang menjadi harta yang banyak. Setelah berlalu beberapa waktu, ia pun mendatangiku seraya berkata: “Wahai, hamba Allah, serahkanlah upahku kepadaku!” Aku berkata kepadanya : “Semua yang engkau saksikan berupa unta, sapi, kambing, dan budak ini adalah upahmu.” Dia berkata : “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bergurau denganku.” Aku berkata : “Aku tidak bergurau.” Maka dia pun mengambil seluruh harta itu, menuntunnya dan tidak menyisakannya sedikit pun. Ya Allah, jika aku melakukan semua itu semata mata karena mengharap wajah Mu, maka keluarkanlah kami dari tempat ini. Batu itu pun bergeser hingga mereka bertiga dapat berjalan keluar."'
Seandainya pekerja itu telah mati sebelum ia menerima upah, hendaknya majikan menyerahkan upah itu kepada ahli warisnya dengan segera. Sebab, mereka lebih berhak atas upah tersebut. Ini merupakan bentuk penunaian amanah.
Jika majikan sudah berusaha mencari ahli waris pekerja itu namun tidak juga menemukannya, hendaknya ia bersedekah senilai upah itu atas nama pekerja tersebut. Allaahu ‘alam
Inilah akhir dari apa yang Allah mudahkan bagiku dari adab adab yang berkaitan dengan ijaarah, dan jumlahnya ada sepuluh adab. Walhamdulillaahi Rabbil 'aalamim.

Ref : Ensiklopedia Adab Islam menurut Al Qur’an dan as Sunnah, ‘Abdul Aziz bin Fathi as Sayid Nada